Berita Hot & Up To Date

Kategori: Kesehatan

Kesehatan – Anda dapat menemukan berita kesehatan terkini, saran hidup sehat, dan panduan ahli di satu tempat untuk meningkatkan kesejahteraan Anda. Dengan membacanya, Anda akan mendapatkan wawasan mendalam tentang cara mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan Anda secara keseluruhan.

Pikun Pada Lansia: Berikut Beberapa Penyebabnya!

Mengenal Lebih Dalam dan Memahami Pikun Pada Lansia

hantengri.org – Pikun pada lansia adalah istilah yang lebih tradisional untuk menggambarkan kondisi demensia pada orang yang sudah lanjut usia. Istilah “pikun” biasanya merujuk pada penurunan fungsi kognitif yang signifikan, termasuk kemampuan memori, pemikiran, bahasa, serta kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Demensia adalah kondisi neurologis yang menimbulkan penurunan fungsi kognitif seperti memori, bahasa, serta kemampuan pengambilan keputusan. Ini seringkali merupakan bagian dari proses penuaan normal. Penyakit Alzheimer adalah penyebab utama dari demensia, mempengaruhi sekitar 80 persen dari semua kasus. Serta mengganggu proses metabolisme sel-sel otak.

Baca juga: Aktivitas Fisik Bisa Turunkan Kolesterol Tinggi? Simak Ulasannya

Gejala demensia bisa berkembang secara bertahap. Awalnya, seseorang mungkin mengalami kesulitan mengingat nama orang atau benda di sekitarnya. Tetapi seiring waktu dapat menderita kesulitan berbicara, kebingungan mengenai waktu dan tempat, serta isolasi sosial karena kesulitan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan.

Proses penyusutan atau pengkerutan otak adalah ciri khas dari demensia. Ini terjadi karena kerusakan sel-sel saraf dan hubungannya di dalam otak, yang mengakibatkan penurunan volume otak secara keseluruhan. Meskipun demensia umumnya terkait dengan penuaan, beberapa kondisi penyakit atau trauma kepala juga dapat menyebabkan demensia pada usia lebih muda. Penting untuk mengenali gejala awal demensia dan mencari bantuan medis sejak dini untuk mengelola kondisi ini secara efektif. Agar dapat meningkatkan kualitas hidup pasien serta keluarganya.

Berikut Cara Mendeteksi Demensia

Untuk mendeteksi demensia, ada tiga kriteria utama yang digunakan: penurunan fungsi kognitif. Kesulitan dalam aktivitas sehari-hari yang sebelumnya mudah dilakukan, dan gangguan perilaku atau emosional. Selain itu, gaya hidup sehat seperti konsumsi makanan seimbang, cukup tidur, dan berbagai aktivitas merangsang otak seperti TTS, membaca, atau berolahraga ringan dapat membantu menjaga kesehatan otak.

Pentingnya kesadaran dan pendidikan tentang demensia ditekankan. Serta dukungan dari komunitas seperti Alzheimer’s Indonesia (Alzi) dapat memberikan bantuan dan pemahaman lebih lanjut kepada keluarga yang merawat orang tua dengan Alzheimer. Melalui pemantauan dan intervensi yang tepat, kita dapat memperbaiki kualitas hidup mereka yang terpengaruh oleh penyakit ini.

Aktivitas Fisik Bisa Turunkan Kolesterol Tinggi? Simak Ulasannya

Memahami Kegunaan Aktivitas Fisik Untuk Kolestrol

hantengri.org – Salah satu aspek penting dari perubahan gaya hidup sehat adalah aktivitas fisik teratur. Aktivitas fisik telah terbukti efektif dalam menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar high-density lipoprotein (HDL) atau “kolesterol baik”. Dr. Leslie Cho dari Cleveland Clinic menekankan pentingnya aktivitas fisik sebagai langkah awal yang sangat baik dalam penanganan hiperkolesterolemia. Berolahraga secara teratur tidak hanya membantu mengurangi kadar LDL. Tetapi juga meningkatkan HDL, yang membantu membersihkan lemak dari dinding arteri dan mencegah penumpukan plak yang menyebabkan penyakit jantung.

Baca juga: Diabetes Tipe 1, Berikut Ciri-cirinya!

Selain itu, olahraga juga berpotensi untuk membantu menurunkan berat badan. Berat badan yang sehat adalah faktor lain yang penting dalam mengelola kolesterol tinggi dan risiko penyakit jantung. Dengan menggabungkan aktivitas fisik teratur dengan diet seimbang yang rendah lemak jenuh dan kaya serat. Seseorang dapat mencapai kontrol yang lebih baik atas kadar kolesterolnya.

Jenis-jenis olahraga yang bermanfaat termasuk berjalan kaki cepat, berlari, bersepeda, berenang, dan latihan kardiovaskular lainnya. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, disarankan untuk berolahraga setidaknya 150 menit per minggu dengan intensitas sedang atau 75 menit per minggu dengan intensitas tinggi.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program latihan baru, terutama bagi mereka yang belum aktif secara fisik atau memiliki kondisi kesehatan lain. Dengan pengawasan yang tepat dan perubahan gaya hidup yang tepat. Seseorang dapat mengelola hiperkolesterolemia dengan lebih efektif, mengurangi risiko serangan jantung, stroke, dan komplikasi lain yang berkaitan dengan kondisi tersebut.

Beberapa Gaya Hidup Sehat yang direkomendasikan

American Heart Association merekomendasikan melakukan aktivitas aerobik seperti berjalan cepat, bersepeda, atau bermain olahraga favorit setidaknya 30 menit, lima hingga tujuh kali seminggu. Jenis-jenis olahraga ini melibatkan banyak otot dalam tubuh dan membantu meningkatkan kondisi kesehatan secara keseluruhan, termasuk mengelola kadar kolesterol.

Namun, upaya untuk menurunkan kolesterol tinggi tidak hanya terbatas pada olahraga. Anda juga perlu mengatur pola makan yang sehat dan, jika diresepkan dokter, mengonsumsi obat-obatan sesuai petunjuk. Kombinasi dari aktivitas fisik, pola makan sehat, dan pengobatan dapat memberikan efek positif yang optimal dalam menurunkan kadar kolesterol dan mengurangi risiko komplikasi kesehatan jangka panjang.

Dengan memperhatikan semua ini, Anda dapat secara proaktif mengelola kadar kolesterol Anda dan mengurangi risiko serangan jantung serta stroke yang sering terkait dengan kondisi kolesterol tinggi.

Diabetes Tipe 1, Berikut Ciri-cirinya!

Simak Pengertian dari Diabetes Tipe 1?

hantengri.org – Diabetes tipe 1 adalah kondisi medis yang disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel beta di pankreas, yang bertanggung jawab untuk memproduksi insulin. Dalam keadaan normal, insulin adalah hormon yang penting untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Namun, ketika sel-sel beta rusak atau tidak berfungsi, produksi insulin menjadi terganggu, menyebabkan penurunan atau bahkan berhentinya produksi insulin secara keseluruhan. Akibatnya, tubuh tidak mampu menggunakan glukosa secara efektif, menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang.

Baca juga: Belkote Paints Rayakan Acara BBQ Ride Kustom Kulture 2024!

Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, gagal ginjal, neuropati (kerusakan saraf), dan masalah kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke.

Seperti Apa Ciri-cirinya?

Beberapa ciri-ciri DM tipe-1 yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Rasa Haus yang Berlebihan: Anda mungkin merasa terus-menerus haus dan membutuhkan minum lebih banyak air dari biasanya.
  2. Sering Buang Air Kecil: Termasuk pada bayi (popoknya cepat penuh) dan anak-anak (mudah mengompol).
  3. Kelelahan: Merasa lelah atau lemas secara berlebihan tanpa sebab yang jelas.
  4. Penglihatan Kabur: Masalah pada penglihatan seperti penglihatan kabur dapat terjadi.
  5. Luka yang Lambat Sembuh: Luka mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk sembuh.
  6. Infeksi Jamur pada Vagina: Pada perempuan, infeksi jamur pada vagina bisa menjadi gejala.

Bagaimana Cara Mengobatinya?

Hingga ini memungkinkan tubuh untuk memproses gula darah dengan baik dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul. Selain insulin, pendekatan pengobatan yang holistik melibatkan perubahan gaya hidup yang signifikan.

Baca juga: Menu Diet: Makanan Rendah Kalori Saran dari Dokter Gizi!

Menghindari makanan tinggi gula dan karbohidrat sederhana serta memilih makanan tinggi serat dan nutrisi lainnya adalah langkah penting dalam menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan insulin secara lebih efisien, sehingga membantu menjaga kadar gula darah dalam kisaran yang sehat. Setiap individu memiliki kebutuhan yang unik, oleh karena itu konsultasi dengan tim perawatan kesehatan adalah langkah penting.

Stres dapat memengaruhi kadar gula darah, sehingga penting untuk mengembangkan strategi untuk mengelola stres sehari-hari, seperti meditasi, yoga, atau aktivitas rekreasi yang menyenangkan.

Gula Darah yang Tinggi, Bagaimana Cara Menurunkannya?

Apa Itu Gula Darah?

hantengri.org – Gula darah, atau glukosa darah, adalah kadar glukosa (gula) yang terlarut dalam darah manusia. Glukosa adalah sumber utama energi bagi tubuh manusia, yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, terutama karbohidrat. Kadar Glukosa yang stabil sangat penting untuk fungsi tubuh yang optimal. Organ-organ seperti pankreas dan hati berperan penting dalam menjaga kadar Glukosa tetap dalam kisaran yang sehat. Yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan serius seperti hiperglikemia (kadar gula darah yang terlalu tinggi) atau hipoglikemia (kadar Glukosa yang terlalu rendah).

Baca juga: Gerd: Simak Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya!

Pemantauan dan pengaturan glukosa secara teratur krusial bagi penderita diabetes. Serta melalui diet yang sehat dan pengaturan aktivitas fisik. Sehingga mengurangi risiko komplikasi jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Simak Cara Menurunkan Gula Darah yang Tinggi

Berikut adalah beberapa cara alami untuk menurunkan Glukosa tinggi:

  1. Olahraga secara teratur: Melakukan olahraga secara teratur dan aktivitas fisik dapat membantu menjaga berat badan ideal dan meningkatkan sensitivitas insulin, yang pada gilirannya akan menurunkan Glukosa. Anda bisa mulai dengan olahraga ringan selama 10 menit, tiga kali sehari, lima hari dalam seminggu.
  2. Membatasi asupan karbohidrat: Karbohidrat dalam makanan dan minuman akan diubah menjadi glukosa dalam tubuh, yang meningkatkan kadar Glukosa. Anda tidak perlu menghindari karbohidrat sepenuhnya, tetapi perlu membatasi asupannya sesuai dengan kebutuhan tubuh dan tingkat aktivitas.
  3. Minum air putih: Minum air putih yang cukup tidak hanya mendukung fungsi tubuh, tetapi juga membantu menurunkan Glukosa. Orang yang minum setidaknya satu liter air putih per hari cenderung memiliki kadar Glukosa yang lebih rendah.
  4. Menambah asupan serat: Serat dapat memperlambat pencernaan karbohidrat dan penyerapan gula, sehingga mengurangi peningkatan kadar gula darah. Konsumsi makanan tinggi serat seperti kacang-kacangan dan alpukat secara teratur.
  5. Makan dengan porsi kecil: Makan dengan porsi kecil dan frekuensi lebih sering dapat membantu menjaga kadar Glukosa stabil. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan seperti ini dapat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
  6. Mengelola stres: Stres dapat meningkatkan kadar Glukosa. Melakukan kegiatan relaksasi seperti meditasi atau yoga dapat membantu mengelola stres dan menjaga kadar Glukosa tetap stabil.
  7. Tidur cukup: Kurang tidur dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan termasuk gula darah tinggi. Pastikan Anda mendapatkan cukup tidur setiap malam untuk menjaga keseimbangan Glukosa.
  8. Menurunkan berat badan: Menjaga berat badan tetap ideal dapat membantu menyeimbangkan kadar Glukosa dan mengurangi risiko diabetes. Bahkan penurunan berat badan sebesar lima persen saja dapat membantu menyeimbangkan kadar Glukosa.

Baca juga: Mobil Matik: Jangan Lupa Pindahkan Tuas Transmisinya!

Selain mengikuti langkah-langkah di atas, konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan saran yang lebih spesifik sesuai kondisi kesehatan Anda.

CPR: Kapan Kita Harus Melakukannya? Berikut Penjelasannya!

Memahami Apa Itu CPR?

hantengri.org – CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) adalah tindakan darurat yang kritis dalam situasi henti jantung atau berhenti bernapas. Prosedur ini dirancang untuk mempertahankan aliran darah dan oksigen ke otak serta organ vital lainnya saat fungsi jantung atau pernapasan seseorang terganggu. Langkah utama dalam CPR adalah melakukan kompresi dada yang kuat dan teratur, yang bertujuan untuk memompa darah ke seluruh tubuh, terutama ke otak. Selain itu, memberikan napas buatan juga penting untuk mengisi paru-paru dengan oksigen agar sirkulasi darah yang optimal dapat dipertahankan. Dengan melakukan CPR dengan tepat dan cepat, dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup seseorang sampai bantuan medis profesional tiba.

Baca juga: Batu Ginjal: Minum dan Olahraga yang Cukup Bisa Mencegahnya!

Pelatihan Cardiopulmonary Resuscitation penting bagi setiap orang karena kejadian henti jantung atau berhenti bernapas bisa terjadi tanpa peringatan. Dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang benar dalam Cardiopulmonary Resuscitation, seseorang dapat menjadi pertolongan pertama yang efektif dalam situasi darurat ini. Selain itu, Cardiopulmonary Resuscitation juga dapat memberikan rasa percaya diri dan kesiapan mental bagi individu untuk mengatasi situasi darurat yang mungkin terjadi di sekitar mereka. Oleh karena itu, pelatihan reguler dan kesadaran akan CPR sangat penting untuk meningkatkan kesempatan bertahan hidup dalam situasi darurat yang mengancam jiwa.

Mengetahui Kapan Anda Harus Mengambil Tindakan CPR

Ini adalah langkah pertama yang bisa menyelamatkan nyawa. Kapan Anda harus melakukannya?

Menurut informasi dari Cleveland Clinic, situasi yang memerlukan CPR adalah ketika seseorang:

  • Tidak merespons
  • Tidak bernapas
  • Tidak memiliki denyut nadi

Jika Anda menyaksikan seseorang mengalami serangan jantung, langkah pertama adalah tetap tenang dan menilai situasinya. Pastikan tempat kejadian aman, kemudian periksa respons orang tersebut dengan menepuk bahu dan bertanya apakah mereka baik-baik saja sambil mencari tanda-tanda pernapasan normal.

Jika orang tersebut tidak merespons dan tidak bernapas normal, langkah berikutnya adalah menempatkan mereka di permukaan yang keras dan datar dengan wajah menghadap ke atas, lalu mulai memberikan CPR.

Baca juga: Kadar Gula: Ini Dia Takaran Normal Orang Dewasa!

Berikut adalah langkah-langkah CPR untuk orang dewasa:

  1. Letakkan satu tangan di atas yang lain dan tempatkan di tengah dada mereka, tepat di bawah puting susu.
  2. Dorong tangan ke bawah dengan keras di tengah dada orang tersebut dengan berat badan Anda. Pastikan lengan tetap lurus.
  3. Lakukan kompresi dada sebanyak 100 hingga 120 kali per menit, dengan menekan ke bawah sekitar 2 inci setiap kali. Pastikan dada mereka kembali naik di antara kompresi.
  4. Orang yang terlatih dalam CPR dapat memberikan dua napas penyelamatan mulut ke mulut setelah setiap 30 kompresi.
  5. Teruskan siklus ini hingga orang tersebut sadar atau bantuan lebih lanjut tiba.

Setelah CPR dilakukan dan detak jantung kembali, sangat penting untuk membawa pasien ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Jadi, saat Anda melihat seseorang yang tidak merespons, tidak bernapas, dan tidak memiliki denyut nadi. CPR adalah tindakan yang segera diperlukan untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Gerd: Simak Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya!

Mengenal Lebih Dalam Apa Itu Gerd

hantengri.org – GERD, atau Gastroesophageal Reflux Disease, adalah kondisi yang melibatkan naiknya asam lambung ke kerongkongan. Ini terjadi ketika katup antara kerongkongan dan lambung, yang disebut sfingter esofagus bawah, tidak berfungsi dengan baik. Sfingter ini seharusnya menutup setelah makanan melewati kerongkongan ke dalam lambung. Ketika sfingter tidak menutup secara efektif, asam lambung dapat naik kembali ke kerongkongan, menyebabkan iritasi dan gejala yang terkait dengan GERD, seperti sensasi terbakar di dada (heartburn), mulut yang terasa pahit, dan kadang-kadang bahkan kesulitan menelan.

Meskipun gejalanya sering mirip dengan penyakit maag, GERD sebenarnya memiliki penyebab dan mekanisme yang berbeda. Faktor risiko untuk GERD termasuk obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta makanan dan minuman tertentu yang dapat memicu refluks asam.

Memahami Penyebab dan Gejala Gerd

Penyebab GERD bisa bervariasi, termasuk:

  1. Makanan dan minuman: Makanan pedas, berlemak, atau asam, minuman berkafein, minuman berkarbonasi, alkohol, serta cokelat bisa memicu gejala GERD.
  2. Kebiasaan Merokok: Merokok bisa mengganggu fungsi otot-otot yang mengendalikan bukaan antara kerongkongan dan lambung.
  3. Obesitas: Kegemukan bisa meningkatkan tekanan pada perut, memperburuk gejala GERD.
  4. Hamil: Perubahan hormonal dan tekanan tambahan pada perut selama kehamilan dapat memperburuk GERD.
  5. Stres: Stres dan kecemasan dapat meningkatkan produksi asam lambung.

Gejala umumnya termasuk:

  1. Sensasi Terbakar di Dada (Heartburn): Merupakan gejala paling umum GERD, terasa seperti sensasi terbakar di dada yang bisa naik hingga tenggorokan.
  2. Regurgitasi: Sensasi pahit atau asam di tenggorokan, terutama setelah makan atau berbaring.
  3. Mulut Pahit: Rasa pahit di mulut, terutama setelah bangun tidur.
  4. Mulas dan Nyeri Perut: Terutama setelah makan.
  5. Kesulitan Menelan: Sensasi tercekik atau tertahan saat menelan makanan atau cairan.
  6. Batuk Kronis: Batuk yang terus-menerus, terutama di malam hari, yang mungkin disebabkan oleh asam lambung yang naik ke kerongkongan dan mengiritasi saluran pernapasan.
  7. Pilek dan Radang Tenggorokan yang Berulang: Terutama jika disertai dengan batuk.

Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan GERD secara teratur, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk evaluasi dan pengobatan yang tepat.

Simak Cara Mengatasinya yang Benar

Cara mengatasinya meliputi:

  1. Perubahan gaya hidup: Menghindari makanan pemicu, menghindari makan besar sebelum tidur, mengangkat kepala tempat tidur, berhenti merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol.
  2. Diet Sehat: Konsumsi makanan rendah lemak, tinggi serat, dan rendah asam.
  3. Obat-obatan: Antasida, obat penghambat asam, dan obat penahan proton adalah pilihan umum untuk mengurangi produksi asam lambung dan meredakan gejala.
  4. Pengobatan Herbal: Beberapa orang menemukan bantuan dari obat-obatan herbal seperti licorice, chamomile, atau jahe.
  5. Pembedahan: Untuk kasus yang parah dan tidak merespons terhadap pengobatan lainnya, pembedahan bisa menjadi pilihan terakhir.

Selalu penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis yang akurat dan rencana pengobatan yang sesuai dengan kondisi spesifik Anda. Jangan ragu untuk berbicara dengan dokter Anda tentang gejala dan perawatan yang mungkin efektif bagi Anda.

Kadar Gula: Ini Dia Takaran Normal Orang Dewasa!

Ini Faktor yang Mempengaruhi Kadar Gula Pada Tubuh

hantengri.org – Kadar gula darah menjadi parameter penting dalam menjaga kesehatan tubuh, terutama bagi orang dewasa, khususnya yang menderita diabetes. Gula darah yang stabil memainkan peran kunci dalam mencegah masalah kesehatan yang serius. Seperti penyakit jantung, stroke, dan komplikasi diabetes lainnya.

Kadar gula darah yang berada dalam rentang ini menunjukkan bahwa tubuh berfungsi dengan baik dalam mengatur kadar glukosa dalam darah untuk mendukung fungsi tubuh yang optimal. Saat puasa dan kurang dari 140 mg/dL sekitar dua jam setelah makan. Saat puasa dan kurang dari 180 mg/dL dua jam setelah makan.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan darah secara rutin dan konsisten. Terutama bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes atau faktor risiko lainnya.

Pentingnya Kestabilan Kadar Gula Dalam Tubuh

Kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menjadi sumber masalah kesehatan yang serius. Hiperglikemia, yang terjadi saat darah terlalu tinggi, dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti kerusakan organ dan saraf. Makan makanan seimbang, rutin berolahraga, dan mengelola stres merupakan kunci utama dalam menjaga darah tetap stabil.

Dengan memahami darah normal dan berkomitmen untuk menjaga gaya hidup yang sehat. Kita dapat mengurangi risiko masalah kesehatan yang terkait dengan darah yang tidak stabil. Hal ini juga melibatkan pemantauan secara teratur oleh dokter atau profesional kesehatan yang bersangkutan untuk memastikan kondisi kesehatan yang optimal.

Ini Dia yang Mempengaruhi Naik Turunnya

Aktivitas fisik juga memainkan peran penting; olahraga meningkatkan sensitivitas insulin, yang membantu tubuh menggunakan gula darah dengan lebih efisien, sehingga dapat menurunkan kadar gula darah.

Dalam keadaan sehat, tubuh secara alami mengatur darah agar tetap stabil. Insulin membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi dan menyimpannya di dalam sel-sel tubuh, sementara glukagon meningkatkan kadar gula darah dengan melepaskan glukosa dari cadangan tubuh.

Namun, gangguan dalam regulasi hormonal atau disfungsi pankreas dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem ini, yang dapat mengakibatkan lonjakan atau penurunan yang tidak terkendali dalam darah Oleh karena itu, memahami faktor-faktor yang mempengaruhi gula darah penting untuk menjaga kesehatan dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul.

Batu Ginjal: Minum dan Olahraga yang Cukup Bisa Mencegahnya!

Memahami Apa Itu Batu Ginjal?

hantengri.org – Batu ginjal adalah endapan keras yang terbentuk di dalam ginjal dan terbuat dari mineral dan garam. Penyakit ini umumnya menyerang orang berusia 30 hingga 60 tahun. Menurut Prof. Dr. dr. Nur Rasyid Sp.U(K), seorang spesialis Urologi dari RS Siloam ASRI Jakarta. Nefrolitiasis dapat terjadi karena kepekatan urine di dalam ginjal akibat kurangnya konsumsi cairan. Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan nefrolitiasis antara lain pola makan tidak sehat, kelebihan berat badan, beberapa kondisi medis, serta penggunaan suplemen dan obat-obatan.

Prof. Nur Rasyid menyoroti pentingnya minum air yang cukup dan bergerak aktif untuk mencegah nefrolitiasis. Dia menekankan bahwa idealnya seseorang harus mengonsumsi sekitar 2,5 hingga 3 liter air setiap hari, dengan melakukan aktivitas normal. Orang yang jarang bergerak atau terlalu banyak duduk cenderung minum air lebih sedikit. Yang meningkatkan risiko mereka untuk mengalami nefrolitiasis atau batu ginjal.

Aktivitas fisik yang cukup penting karena membantu dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mengurangi kepekatan urine. Yang merupakan faktor risiko utama untuk pembentukan batu ginjal. Selain itu, bergerak aktif juga dapat membantu batu ginjal berukuran kecil agar dapat keluar dari ginjal dengan lebih mudah. Oleh karena itu, kombinasi antara minum air yang cukup dan gaya hidup yang aktif adalah langkah-langkah yang sangat dianjurkan untuk mencegah nefrolitiasis.

Memiliki Gaya Hidup yang Baik Membantu Mencegah Batu Ginjal

Bergerak secara aktif juga penting karena dapat membantu nefrolitiasis berukuran kecil untuk turun dan keluar dari ginjal. Orang yang memiliki gaya hidup yang kurang aktif cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena nefrolitiasis. Terutama jika mereka juga mengalami obesitas.

Untuk pengobatan, jika nefrolitiasis memiliki ukuran kurang dari dua milimeter, dokter dapat memberikan obat untuk melebarkan saluran urine sehingga batu dapat keluar dengan lebih mudah. Namun, jika nefrolitiasis lebih besar atau menyumbat saluran kemih, mungkin diperlukan prosedur medis atau pembedahan.

Gejala batu ginjal termasuk nyeri, pegal-pegal, urine berwarna merah atau keruh, dan muntah. Karena beberapa kasus nefrolitiasis tidak menimbulkan gejala khusus, penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan memeriksa ginjal dengan USG untuk mendeteksi nefrolitiasis secara dini.

Untuk mencegah nefrolitiasis, disarankan untuk minum cukup air, berolahraga, mengurangi berat badan jika memiliki kelebihan berat badan, dan menjaga pola makan yang sehat.

© 2024 Han Ten Gri

Theme by Anders NorenUp ↑